PASANG IKLANMU DISINI
IMG-20260619-WA0002

Bappeda Sumenep Kenalkan Arah Pembangunan 2025–2029 Lewat Stan Bernuansa Keraton di MCF 2026

Pada
A-AA+A++

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep menghadirkan konsep bernuansa Keraton dan Pendopo dalam Pameran Pembangunan Madura Night Vaganza di Madura Culture Festival (MCF) 2026 yang berlangsung di GOR A. Yani Pangligur, Sumenep.

Konsep tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena tidak sekadar mengedepankan unsur estetika. Bappeda menggabungkan simbol budaya lokal dengan berbagai informasi mengenai arah kebijakan, program prioritas, capaian pembangunan, serta inovasi yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Sumenep.

IMG-20260617-WA0002

Pengunjung dapat memperoleh informasi yang selama ini lebih banyak tersaji dalam dokumen perencanaan pemerintahan. Di antaranya visi dan misi daerah, delapan program unggulan Sumenep periode 2025–2029, indikator pembangunan, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK), aplikasi e-Stunting, E-SAKIP, hingga Peti Koin Bermantara.

Berbagai informasi tersebut dikemas dalam bentuk infografis sehingga lebih mudah dibaca dan dipahami masyarakat.

Pendopo sebagai Simbol Musyawarah

Pemilihan Pendopo sebagai salah satu elemen utama stan memiliki pesan yang berkaitan dengan proses perencanaan pembangunan.

Pendopo selama ini dikenal sebagai ruang terbuka untuk berkumpul, berdiskusi, menyampaikan aspirasi, dan mencapai kesepakatan. Nilai tersebut dianggap relevan dengan proses pembangunan yang membutuhkan komunikasi serta keterlibatan banyak pihak.

Sementara itu, keberadaan ornamen Keraton Sumenep menjadi representasi sejarah, identitas, dan kearifan lokal masyarakat setempat.

Kedua unsur tersebut kemudian dipadukan dengan materi pembangunan. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa perencanaan masa depan daerah tetap perlu dibangun dengan mempertahankan karakter dan jati diri Sumenep.

Kepala Bappeda Sumenep, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa konsep tersebut dipilih untuk memperlihatkan keterkaitan antara budaya daerah dan pembangunan.

“Pendopo merupakan ruang untuk berkumpul, bermusyawarah, dan menyampaikan aspirasi. Nilai tersebut sejalan dengan proses perencanaan pembangunan yang membutuhkan partisipasi dan kesepakatan bersama,” terang Arif Firmanto.

Menurutnya, Keraton juga tidak dapat dilepaskan dari identitas Kabupaten Sumenep.

“Keraton menggambarkan sejarah dan jati diri Sumenep. Karena itu, pembangunan ke depan harus tetap memiliki pijakan pada karakter dan budaya daerah,” katanya.

Delapan Program Prioritas Diperkenalkan

Bappeda turut memaparkan delapan program unggulan Kabupaten Sumenep untuk periode 2025–2029.

Program tersebut antara lain peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru sekolah, guru ngaji, serta guru madrasah melalui dukungan beasiswa.

Di bidang kesehatan, pemerintah daerah menempatkan peningkatan mutu pelayanan kesehatan dasar di puskesmas dan penguatan pelayanan kesehatan lanjutan di rumah sakit sebagai salah satu prioritas.

Sementara pada sektor ekonomi, arah kebijakan mencakup pengembangan kewirausahaan santri dan pemuda, pengembangan ekonomi kawasan, serta percepatan pertumbuhan ekonomi melalui penguatan potensi desa.

Pembangunan infrastruktur juga diarahkan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan serta keseimbangan antara wilayah daratan dan kepulauan.

Prioritas lainnya meliputi penguatan tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional, peningkatan penanganan persoalan sosial melalui semangat gotong royong, serta penguatan infrastruktur dan moda transportasi yang mendukung konektivitas wilayah kepulauan.

Seluruh materi tersebut menjadi gambaran mengenai arah pembangunan Sumenep dalam lima tahun mendatang.

Masyarakat Dikenalkan Proses Penyusunan RKPD

Tidak hanya memperkenalkan hasil dan program pembangunan, Bappeda juga membuka informasi mengenai tahapan penyusunan RKPD.

Melalui infografis, pengunjung dapat mengetahui tahapan perencanaan mulai dari persiapan penyusunan rancangan awal RKPD, penyusunan rancangan awal, forum perangkat daerah, Musrenbang RKPD Kabupaten, perumusan rancangan akhir hingga penetapan RKPD.

Menurut Arif Firmanto, pemahaman mengenai proses tersebut penting agar masyarakat mengetahui bahwa setiap program pembangunan tidak muncul secara tiba-tiba.

“Setiap program pembangunan tentu melalui proses. Ada data, pembahasan, koordinasi, dan tahapan yang harus dilalui. Kami ingin masyarakat memahami proses tersebut,” jelasnya.

Data Pembangunan dan Inovasi Dipamerkan

Sejumlah indikator sosial dan ekonomi Kabupaten Sumenep juga menjadi bagian dari materi pameran.

Beberapa di antaranya tingkat pengangguran terbuka, persentase penduduk miskin, laju pertumbuhan ekonomi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), serta Indeks Gini.

Data tersebut menjadi salah satu instrumen untuk melihat perkembangan sekaligus mengevaluasi kondisi pembangunan daerah.

Bappeda juga memperkenalkan sejumlah inovasi, seperti e-Stunting, E-SAKIP, dan Peti Koin Bermantara.

Aplikasi e-Stunting digunakan dalam pengelolaan data terkait stunting sehingga dapat mendukung penyusunan intervensi berbasis data.

Adapun Peti Koin Bermantara diarahkan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi produktif masyarakat. Cakupannya meliputi sejumlah sektor, seperti pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, serta perindustrian dan perdagangan.

Bupati Kunjungi Stan Bappeda

Stan Bappeda juga mendapat perhatian dari Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo.

Bupati bersama jajaran melihat berbagai materi yang ditampilkan, mulai dari program unggulan, indikator capaian pembangunan hingga inovasi yang diperkenalkan Bappeda.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga mencoba fasilitas video booth yang disediakan bagi pengunjung.

Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis untuk mengabadikan momen selama mengikuti kegiatan MCF 2026.

Saat meninjau stan, Bupati terlihat memberikan gestur jempol setelah melihat konsep dan sejumlah inovasi yang ditampilkan.

Jadi Ruang Komunikasi dengan Masyarakat

Keikutsertaan Bappeda dalam MCF 2026 dinilai menjadi kesempatan untuk mendekatkan informasi pembangunan kepada masyarakat.

Arif mengatakan, pameran tersebut tidak hanya menjadi ajang menampilkan program pemerintah, tetapi juga ruang komunikasi dua arah dengan publik.

“Pameran ini menjadi ruang komunikasi. Masyarakat bisa melihat program, capaian, dan inovasi pembangunan, sekaligus memahami bagaimana proses perencanaannya,” tuturnya.

Ia menegaskan, masyarakat diharapkan tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga terlibat dalam proses pembangunan melalui masukan dan gagasan.

“Pembangunan tidak bisa hanya dilakukan pemerintah. Masukan dan partisipasi masyarakat juga penting dalam menentukan arah pembangunan,” lanjutnya.

Budaya Menjadi Pijakan Pembangunan

Konsep stan Bappeda tersebut pada akhirnya menyatukan tiga elemen utama, yakni Keraton, Pendopo, dan perencanaan pembangunan.

Keraton menjadi simbol sejarah serta jati diri Sumenep. Pendopo menggambarkan keterbukaan dan ruang musyawarah. Sedangkan Bappeda merepresentasikan institusi yang berperan dalam mengoordinasikan perencanaan pembangunan daerah.

Arif Firmanto menyebut perpaduan tersebut sebagai gambaran sederhana mengenai posisi Bappeda dalam menentukan arah pembangunan daerah.

“Keraton sebagai simbol jati diri, Pendopo sebagai ruang musyawarah, dan Bappeda sebagai rumah perencanaan. Kami ingin menunjukkan bahwa pembangunan harus disusun dengan proses yang baik, berbasis data, melibatkan masyarakat, dan tetap berpijak pada budaya daerah,” ungkapnya.

Dengan konsep tersebut, budaya lokal tidak hanya ditempatkan sebagai hiasan stan. Lebih dari itu, budaya menjadi bagian dari pesan bahwa pembangunan Sumenep perlu tumbuh berdasarkan karakter, potensi, serta kebutuhan masyarakat.

Madura Night Vaganza 2026 berlangsung pada 26 Agustus hingga 4 September 2026 dan menjadi bagian dari rangkaian Madura Culture Fest (MCF) #4.

Bagi Bappeda Sumenep, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan arah pembangunan sekaligus membuka ruang komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat.

Bacaan Lainnya

Stan DKPP Sumenep di MCF 2026 Tawarkan Produk Lokal dan Beragam Layanan Gratis

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Dinas Ketahanan Pangan dan...

Ragam Kuliner Tradisional Khas Pulau Masalembu Jadi Daya Tarik di MCF 2026

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Pulau Masalembu tak hanya...

Sekda Sumenep Kunjungi Stan Kecamatan Gapura di MCF 2026 yang Tampilkan Ragam Kuliner Lokal

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Beragam produk kuliner lokal...

Kunjungan Sekda Agus Dwi Saputra ke Stan Bapenda Sumenep Warnai Semarak MCF 2026

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten...

Madura Night Vaganza 2026 Sumenep Resmi Dibuka Diikuti Ratusan Stan: Kenalkan Capaian Pembangunan, UMKM dan Budaya

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Madura Night Vaganza 2026...

Kehadiran Stan RSUD Sumenep di MCF 2026 Disambut Antusias Pengunjung

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Antusiasme masyarakat mewarnai malam...

IMG-20260617-WA0002

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *