SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Pemerintah Kabupaten Sumenep terus mendorong penguatan budaya literasi di kalangan generasi muda. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui peluncuran program 1001 Puisi oleh Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, di SMP Negeri 1 Kalianget, Jumat (30/10/2026).
Program ini diharapkan menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, serta mengekspresikan ide dan kreativitas melalui karya sastra.
Kehadiran Bupati Achmad Fauzi bersama Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, H. Moh. Iksan, disambut meriah oleh keluarga besar SMPN 1 Kalianget. Penyambutan diawali dengan pengalungan bunga oleh siswa, kemudian dilanjutkan dengan berbagai pertunjukan seni.
Sejumlah penampilan turut memeriahkan kegiatan tersebut, mulai dari tari tradisional, tarian kolosal yang dibawakan para siswi, hingga persembahan paduan suara.
Beragam pertunjukan itu sekaligus memperlihatkan potensi dan kreativitas peserta didik dalam mengembangkan bakat seni di lingkungan sekolah.
Suasana semakin menarik ketika Bupati Achmad Fauzi tampil membacakan puisi karyanya sendiri berjudul Rukun dengan Teman.
Melalui puisi tersebut, orang nomor satu di lingkungan Pemkab Sumenep itu menyampaikan pesan mengenai pentingnya persahabatan, toleransi, sikap saling menghargai, dan menjaga keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi sebagai Sarana Pembentukan Karakter
Dalam sambutannya, Bupati Achmad Fauzi menyampaikan bahwa program 1001 Puisi merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat budaya literasi sekaligus membentuk karakter generasi muda.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai acara peluncuran, tetapi harus menjadi awal tumbuhnya kebiasaan positif di kalangan pelajar dalam membaca, menulis, dan menghasilkan karya.
“Program 1001 Puisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Kami ingin menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap literasi dan mendorong mereka berani melahirkan karya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, puisi merupakan salah satu media yang efektif untuk menyampaikan pemikiran dan pesan kehidupan. Melalui rangkaian kata, pelajar dapat belajar memahami lingkungan, mengembangkan imajinasi, sekaligus meningkatkan kepekaan sosial.
Karena itu, ia berharap kegiatan sastra semakin mendapat ruang di lingkungan pendidikan sehingga siswa memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan secara kreatif dan positif.
“Melalui puisi, anak-anak bisa belajar menyampaikan gagasan, mengasah kepekaan, serta memahami nilai persahabatan dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala SMPN 1 Kalianget, H. Marsuto, juga membacakan puisi hasil karyanya sendiri.
Partisipasi kepala sekolah tersebut menjadi gambaran bahwa pengembangan budaya literasi membutuhkan keterlibatan seluruh unsur pendidikan, termasuk guru dan tenaga kependidikan, sebagai teladan bagi peserta didik.
Puisi untuk Menumbuhkan Persatuan dan Toleransi
Bupati Achmad Fauzi mengapresiasi semangat para siswa yang turut menyukseskan peluncuran program 1001 Puisi. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memotivasi pelajar untuk terus mengembangkan kemampuan dan menghasilkan karya meskipun acara telah selesai.
“Puisi adalah jembatan hati. Saya ingin anak-anak Sumenep tumbuh menjadi generasi yang kreatif, saling menghargai, hidup rukun, dan terus berprestasi,” katanya.
Ia juga menilai kebiasaan membaca dan menulis sejak usia sekolah dapat menjadi modal penting dalam membangun pola pikir, kreativitas, serta kepercayaan diri generasi muda.
“Teruslah menulis, membaca, dan berkarya. Jangan takut menuangkan ide melalui puisi, karena dari karya sederhana bisa lahir pemikiran besar bagi masa depan Sumenep,” pesannya.
Peluncuran program 1001 Puisi di SMPN 1 Kalianget diharapkan mampu mendorong lahirnya lingkungan pendidikan yang semakin produktif dalam mengembangkan kreativitas dan kemampuan literasi siswa.
Lebih jauh, program tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan karya sastra, tetapi juga menanamkan nilai persaudaraan, toleransi, dan persatuan kepada generasi muda.
Dengan demikian, literasi tidak sekadar menjadi aktivitas membaca dan menulis, melainkan juga sarana membangun karakter pelajar yang kreatif, berbudaya, serta mampu menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak ada Respon