SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Pekerjaan proyek penanggulangan banjir di Desa Nambakor, Kabupaten Sumenep, mulai menjadi perhatian masyarakat. Proyek yang diharapkan mampu mengurangi risiko banjir tersebut kini menuai sorotan lantaran kondisi sungai di lokasi pekerjaan dinilai belum menunjukkan perubahan sebagaimana yang diharapkan. Minggu (1/11/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek yang berkaitan dengan penanganan banjir melalui pekerjaan normalisasi aliran sungai itu direncanakan mencakup pelebaran dan pendalaman sungai. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas tampung air sehingga aliran lebih lancar, terutama ketika debit air meningkat saat musim hujan.
Namun, kondisi di lapangan justru memunculkan pertanyaan. Sungai yang semestinya diperlebar dan diperdalam dinilai masih terlihat sempit. Bahkan, masyarakat menyoroti bagian tanggul di sisi sungai yang justru tampak semakin kecil.
“Proyek untuk penanggulangan banjir di Nambakor, sungai yang sempit sejatinya dilebarkan dan diperdalam, ternyata sungai masih sempit tanggul samping makin kecil,” terang seorang warga sekitar kepada Jurnalis Indonesia, Minggu (1/11/2026).
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran. Sebab, apabila kapasitas sungai tidak mengalami perubahan secara signifikan, efektivitas pekerjaan dalam mengantisipasi luapan air saat hujan deras patut menjadi perhatian.
Masyarakat berharap pekerjaan yang menggunakan anggaran pemerintah tersebut tidak sekadar mengejar penyelesaian fisik, tetapi benar-benar mengedepankan fungsi dan manfaat bagi warga sekitar.
Penanganan banjir seharusnya dilakukan melalui perencanaan teknis yang matang, mulai dari pengukuran lebar dan kedalaman sungai, kapasitas aliran air, hingga konstruksi tanggul yang memadai. Dengan demikian, hasil pekerjaan tidak hanya terlihat selesai secara administratif, tetapi juga mampu menjawab persoalan banjir yang selama ini dikhawatirkan masyarakat.
Untuk itu berharap instansi terkait, termasuk pihak pelaksana dan pengawas pekerjaan, turun langsung melakukan evaluasi terhadap kondisi fisik proyek tersebut. Jika ditemukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan perencanaan maupun spesifikasi teknis, perlu dilakukan pemeriksaan dan perbaikan sesuai ketentuan.
“Jangan sampai proyek yang sejatinya dirancang untuk melindungi masyarakat dari ancaman banjir justru menyisakan persoalan baru di kemudian hari,” harapnya.
Karena itu, transparansi pelaksanaan, pengawasan kualitas pekerjaan, serta kesesuaian antara perencanaan dan realisasi di lapangan menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.
“Maka dari itu kami minta pihak terkait tidak asal-asalan dalam mengerjakan, agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” pintanya.
Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Sumenep, Eri Susanto, dikonfirmasi belum merespon. (ily)

Tidak ada Respon