PASANG IKLANMU DISINI
IMG-20260920-WA0012
IMG-20260920-WA0013

Kolaborasi Lintas Generasi, Rebana Assalafiyah Gaungkan Selawat Lewat Rekaman

Pada
A-AA+A++

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Kelompok Kesenian Rebana Klasik Assalafiyah asal Larangan, Kabupaten Pamekasan, melakukan rekaman profesional di OS Studio, Kabupaten Sumenep, Selasa (31/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan budaya Islam Nusantara.

Rekaman tersebut difokuskan pada dokumentasi “Terbang Karatangan”, salah satu pakem rebana khas Pamekasan yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki nilai historis tinggi.

IMG-20260617-WA0002

Pengampu Grup Rebana Assalafiyah, Kiai Jawahir, mengungkapkan bahwa alat musik yang digunakan bukan instrumen biasa. Rebana tersebut diperkirakan telah berusia sekitar tiga abad dan tetap dipertahankan keasliannya hingga kini.

Sementara itu, promotor grup, Mpu Fauzi, menjelaskan bahwa proses rekaman dilakukan secara profesional guna menghasilkan dokumentasi yang utuh dan berkualitas.

“Rekaman ini kami lakukan agar nilai artistik dan historisnya dapat terdokumentasi dengan baik,” ujarnya.

Proses produksi ini turut mendapat apresiasi dari Rifan Khoridi, pemerhati seni tradisional sekaligus pemilik OS Studio. Ia menilai langkah tersebut sebagai upaya konkret dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional.

“Ini menjadi langkah strategis untuk merawat nilai-nilai warisan leluhur agar tetap relevan di masa mendatang,” kata Rifan.

Grup Rebana Assalafiyah terdiri dari 12 penabuh rebana serta 7 hingga 10 personel tim ruddat yang menampilkan koreografi khas. Komposisi ini memperlihatkan kekompakan serta kekayaan tradisi yang masih terjaga.

Kekuatan kelompok ini juga terletak pada perpaduan lintas generasi. Para sesepuh seperti Rifa’i, Supandi, Sun, Pasulah, dan H. Syaiful berkolaborasi dengan generasi muda, di antaranya Adul Adim, Rahmad, Fauzi, Umam, Rian, Berril, dan lainnya.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, kegiatan ini juga mengandung nilai spiritual. Lantunan selawat yang dibawakan diharapkan dapat memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Salah satu syair yang dikumandangkan berbunyi, “Man yamut fi hubbihi nala kullal mathlabi,” yang bermakna bahwa siapa yang wafat dalam kecintaan kepada Rasul, maka ia telah meraih apa yang diharapkannya.

Melalui hasil rekaman yang nantinya akan dirilis dalam format fisik maupun digital, diharapkan generasi mendatang tetap dapat menikmati keaslian dan kekayaan bunyi Terbang Karatangan yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Bacaan Lainnya

JSI Apresiasi Capaian Kinerja Bupati Fauzi atas Penguatan Infrastruktur dan Pelayanan Dasar di Sumenep

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Pemerataan pembangunan antara wilayah...

Kadiskominfo Sumenep Tekankan Keterbukaan dan Kekompakan dalam Pelayanan Publik

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Kepala Dinas Komunikasi dan...

Diskominfo Sumenep Peringati Maulid Nabi, Kadis Indra: Jabatan Adalah Amanah, Jalankan Tugas dengan Ikhlas dan Sabar

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Dinas Komunikasi dan Informatika...

Wabup Imam Hasyim Lantik 28 Pejabat Pemkab Sumenep

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep...

Sekcam Ainul Yakin Resmi Jadi Camat Masalembu, Siap Lanjutkan Penguatan Pelayanan di Wilayah Kepulauan

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Pemerintah Kabupaten Sumenep melakukan...

Achmad Auzai Rahman Resmi Jadi Camat Pragaan, Bawa Pengalaman dari Wilayah Kepulauan

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Pemerintah Kabupaten Sumenep kembali...

IMG-20260910-WA0010