SURABAYA (JURNALIS INDONESIA) – Ketua Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI) Jatim, Heru, menilai Gebyar Sholawat dan Launching Ramadhan GenZi 1445 H/2024 M di Masjid Al Akbar Surabaya yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak tepat sasaran, Selasa (12/3/24).
Pasalnya, kegiatan religi yang mengangkat tema GenZi atau Generasi Z tetapi yang hadir adalah Generasi Sepuh sehingga terkesan seperti Mega Pers Release.
Dalam pantauan Jurnalis Indonesia memang nampak terdapat fenomena aneh, yaitu kehadiran peserta Gebyar Sholawat tersebut rata-rata adalah Generasi Sepuh dan sangat sangat minim sekali kehadiran para Generasi Z atau GenZi, mengingat bahwa Launching Ramadhannya berlatar belakang launching Ramadhan GenZi.
“Saya ini heran, konser Gebyar Sholawat yang menelan anggaran ratusan juta, bahkan bisa sampai 1 milyar lebih itu, tema besarnya untuk GenZi tetapi yang hadir kebanyakan Generasi lansia,” ungkap Heru MAKI.
“Prosesi potong rambutnya sangat bagus dan sakral sebagai simbolis ungkapan kembali ke kesucian, tetapi karena tema GenZi, pertanyaannya adalah apakah sekelas umur Pak Yasin kepala Bappeda Jatim masuk kategori GenZi ya,” tanya Heru MAKI.
Lanjut ia, melihat fakta di lapangan, dengan tema besar GenZi atau Generasi Z, harusnya panitia pelaksana lebih menitik beratkan kepada undangan peruntukannya untuk kaum GenZi, bukan kemudian lebih diutamakan kehadiran generasi yang bukan generasi GenZi.
Baginya, anggaran pelaksanaan yang tidak sesuai dengan tema besar untuk GenZi tersebut akan menjadi potensi wrong policy yang tidak sesuai dengan peruntukkan serta tidak sesuai tema dan mengarah kepada potensi “corruption policy”.
“Kami lagi menanyakan detail sumber anggaran dan pengumpulan bahan keterangan lengkap dan MAKI Jatim akan secepatnya menindaklanjuti hal tersebut. Dan sudah saatnya kegiatan berbasis religi bisa berpotensi akan menjadi masalah hukum apabila penempatannya salah atau sak karepe dewe, catat itu,” ungkap Heru MAKI. (kus)


