PASANG IKLANMU DISINI
Example floating
Example floating

Jokowi Punya Program BLT, Prabowo Punya MBG dan Program Populasi Lainnya: Strategi Klientelisme Menuju Panggung Kekuasaan Jilid ke-2

Pada
A-AA+A++

Oleh: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si (Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia)

OPINI (JURNALIS INDONESIA) – Perbandingan antara program Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada era Joko Widodo dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung Prabowo Subianto membuka ruang diskusi tentang bagaimana kebijakan populis digunakan dalam strategi politik kontemporer. Di satu sisi, program-program tersebut dapat dibaca sebagai bentuk kehadiran negara dalam menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan kritis: sejauh mana kebijakan ini merupakan bagian dari strategi klientelisme yang bertujuan membangun loyalitas politik jangka panjang? Dalam konteks ini, batas antara kebijakan publik dan strategi elektoral menjadi semakin tipis.

Klientelisme dalam ilmu politik merujuk pada hubungan timbal balik antara aktor politik dan masyarakat, di mana dukungan politik ditukar dengan manfaat material atau program tertentu. Pola ini bukan hal baru, dan dapat ditemukan dalam berbagai sistem politik di dunia. Dalam konteks Indonesia, program bantuan sosial seringkali berada di persimpangan antara kebutuhan riil masyarakat dan kepentingan politik. Ketika distribusi bantuan dikaitkan secara langsung maupun tidak langsung dengan figur atau kekuasaan tertentu, maka potensi klientelisme menjadi sulit dihindari.

BLT pada masa pemerintahan Jokowi, misalnya, memiliki dasar kuat sebagai instrumen perlindungan sosial, terutama dalam situasi krisis seperti pandemi. Program ini membantu menjaga daya beli masyarakat dan mencegah peningkatan kemiskinan yang lebih dalam. Namun, dalam praktik politik, distribusi bantuan semacam ini juga tidak sepenuhnya steril dari persepsi publik sebagai “hadiah” dari pemerintah. Persepsi ini dapat membentuk hubungan psikologis antara penerima bantuan dan pemberi kebijakan.

Program MBG yang diusung Prabowo juga memiliki dimensi ganda. Secara substantif, ia bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Namun sebagai program yang sangat populer dan mudah dipahami, ia juga memiliki daya tarik politik yang kuat. Program semacam ini mudah dikomunikasikan dan berpotensi membangun kedekatan emosional dengan masyarakat luas.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah program-program tersebut semata-mata bentuk kebijakan populis, atau bagian dari strategi klientelisme yang lebih terstruktur. Jawabannya tidak selalu hitam-putih. Dalam banyak kasus, kebijakan publik memang memiliki dimensi politik, karena dirancang dan dijalankan dalam konteks kekuasaan. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika orientasi politik lebih dominan dibandingkan dengan tujuan kesejahteraan itu sendiri.

Dalam sistem demokrasi elektoral, insentif untuk menggunakan kebijakan populis sangat besar. Politisi membutuhkan dukungan luas, dan program yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat menjadi alat yang efektif. Namun, jika tidak diimbangi dengan perencanaan yang matang dan keberlanjutan anggaran, program semacam ini berisiko menjadi beban fiskal di masa depan. Di sinilah pentingnya memastikan bahwa kebijakan populis tetap berada dalam kerangka rasionalitas ekonomi.

Selain itu, klientelisme juga dapat melemahkan institusi jika tidak dikontrol. Ketika hubungan antara negara dan warga lebih bersifat personal daripada institusional, maka akuntabilitas menjadi kabur. Masyarakat mungkin merasa berutang budi kepada figur tertentu, bukan kepada sistem yang seharusnya bekerja untuk semua. Hal ini berpotensi menghambat perkembangan demokrasi yang sehat.

Namun demikian, penting untuk tidak serta-merta menolak semua program populis sebagai bentuk klientelisme. Dalam banyak kasus, program tersebut действительно menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Tantangannya adalah bagaimana memastikan bahwa kebijakan tersebut dirancang secara transparan, berbasis data, dan tidak diskriminatif. Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan secara luas tanpa menciptakan ketergantungan politik.

Peran birokrasi menjadi sangat penting dalam menjaga netralitas implementasi kebijakan. Distribusi bantuan harus dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika birokrasi terlibat dalam praktik politik praktis, maka risiko penyalahgunaan akan semakin besar. Oleh karena itu, profesionalisme aparatur negara menjadi salah satu kunci dalam mencegah klientelisme.

Media dan masyarakat sipil juga memiliki fungsi kontrol yang tidak kalah penting. Dengan melakukan pengawasan dan analisis kritis, mereka dapat memastikan bahwa kebijakan publik tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik sempit. Transparansi informasi menjadi faktor kunci agar publik dapat menilai secara objektif setiap program yang dijalankan.

Dalam konteks menuju “panggung kekuasaan jilid ke-2”, seperti yang disebut dalam judul, program-program populis memang memiliki potensi untuk memperkuat posisi politik. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh popularitas, tetapi juga oleh efektivitas dan keberlanjutan kebijakan. Masyarakat semakin kritis dan memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadap kinerja pemerintah.

Pada akhirnya, perdebatan tentang BLT, MBG, dan program populis lainnya seharusnya tidak berhenti pada dikotomi antara pro dan kontra. Yang lebih penting adalah bagaimana memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar berpihak pada kepentingan publik, bukan sekadar alat untuk mempertahankan kekuasaan. Demokrasi yang sehat membutuhkan kebijakan yang tidak hanya populer, tetapi juga adil, transparan, dan berkelanjutan.

Catatan: Seluruh isi tulisan merupakan tanggungjawab penulis sepenuhnya

IMG-20260312-WA0047
Example 120x600

Bacaan Lainnya

Satu Mei sebagai Refleksi Perlawanan Kaum Buruh: Mengenang Kembali ‘Fatwa’ Mbah Karl Marx, Dialektika Materialisme Historis, antara Kelas Penindas dan Tertindas dalam Konteks Perbudakan Modern

Oleh: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si (Akademisi, Direktur...

Kabar Baru: Rampok Bernama Edi Junaidi

Oleh: Fauzi As OPINI (JURNALISINDONESIA) – Jika menyebut...

Jumhur Hidayat di Tengah Samudra Ring of Fire dan Struktur Kemunafikan Kolektif: Apa yang Bisa Kamu Kerjakan, Kawan?

Oleh: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si (Akademisi, Direktur...

Rezim Gemoy, Reshuffle Jilid V: Konsolidasi Kekuasaan atau Strategi Bertahan

Oleh: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si (Akademisi, Direktur...

Aktivis Bajingan

Oleh: Fauzi As OPINI (JURNALIS INDONESIA) – Aktivis...

Dua Wajah Negara

Oleh : Fauzi As OPINI (JURNALIS INDONESIA) –...

IMG-20260320-WA0006