JAKARTA (JURNALIS INDONESIA) – Kisah perjuangan Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Program Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU), menjadi sorotan dalam seminar dan talkshow peluncuran serta bedah buku bertaraf internasional di Aula G FKM Universitas Indonesia (UI), Sabtu lalu.
Buku berjudul “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” tersebut mengangkat perjalanan hidup Ja’far yang berasal dari desa terpencil di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara.
Kegiatan itu menjadi forum yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, serta sejumlah pemangku kepentingan untuk membahas perjalanan hidup, pengalaman empiris, inovasi, dan gagasan yang dituangkan Ja’far dalam bukunya.
Kisah Ja’far menarik perhatian karena ia mengaku memulai perjalanan merantau dengan modal hanya Rp70.000. Untuk membiayai pendidikan, ia berjualan roti sambil menjalani perkuliahan.
Apresiasi terhadap buku tersebut juga datang dari pembaca mancanegara. Salah satu komentar yang diterima Ja’far berbunyi, “Your book looks interesting! I’d love to introduce it to my reading community.”
Komentar tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap karya yang mengangkat pengalaman hidup dan perjuangan penulis dari keterbatasan ekonomi hingga menempuh pendidikan tinggi.
Kepada awak media, Kamis (13/8/2026), Ja’far menjelaskan bahwa kegiatan peluncuran dan bedah buku tersebut diikuti sekitar 500 peserta secara luring dan 1.500 peserta secara daring.
Menurutnya, kegiatan tersebut diselenggarakan Mega Press Nusantara bersama Perpurnas, IKAPI, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI, dengan dukungan sejumlah institusi, termasuk Perpustakaan Nasional RI dan FKM UI.
“Peluncuran dan bedah buku saya diikuti ratusan peserta secara luring dan ribuan peserta secara daring. Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkenalkan perjalanan hidup dan gagasan yang saya tuangkan dalam buku,” ujar Ja’far.
Ia mengatakan, peluncuran buku tersebut menjadi momentum penting karena menunjukkan bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak harus menjadi penghalang untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.
“Peluncuran ini menjadi bukti bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” katanya.
Dalam bukunya, Ja’far mengisahkan perjalanan hidup sebagai anak yatim dari daerah terpencil. Berbagai keterbatasan yang dialaminya menjadi pengalaman yang kemudian mendorong dirinya untuk melakukan berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan inovasi.
Ia juga mengangkat pengembangan inovasi yang disebut Biofar SS. Menurut Ja’far, formula inovasi tersebut masih dirahasiakan dan pengembangannya dilakukan melalui serangkaian proses penelitian serta pengujian.
Ja’far menyebut pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam mengembangkan kompetensi di bidang gizi, kesehatan masyarakat, serta pengabdian kepada masyarakat.
Ia juga menilai kepercayaan yang diperolehnya melalui Program Beasiswa Kapolri merupakan amanah yang harus dijawab dengan prestasi dan karya yang memberikan manfaat.
“Seluruh kompetensi dan wawasan yang saya peroleh selama pendidikan saya arahkan menjadi karya terapan dan inovasi yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Buku setebal lebih dari 400 halaman tersebut disusun dengan memadukan pengalaman pribadi penulis dengan berbagai teori dan referensi ilmiah. Ja’far menyebut terdapat lebih dari 200 referensi lintas disiplin yang digunakan dalam penyusunan buku.
Sejumlah teori yang dibahas antara lain teori modal sosial dan kapabilitas manusia, teori aksi terencana, teori keadilan kesehatan, serta determinan sosial kesehatan.
Selain itu, buku tersebut juga memuat pembahasan mengenai psikologi perkembangan, teori sistem ekologi, post-traumatic growth, resiliensi, growth mindset, hingga Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR).
Dalam aspek manajemen, Ja’far menggunakan sejumlah pendekatan, seperti Prinsip Pareto 80/20, Matriks Eisenhower, metode RACI, dan Work Breakdown Structure (WBS).
Menurutnya, pendekatan multidisiplin tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana pengalaman hidup, pendidikan, pengembangan kapasitas, serta proses inovasi dapat dianalisis secara sistematis.
Acara peluncuran dan bedah buku tersebut dibuka oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. Sementara sambutan Kapolri dibacakan oleh Irjen Pol Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si.
Dalam sambutannya disampaikan bahwa perjalanan Ja’far menjadi gambaran bahwa potensi anak bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh latar belakang ekonomi. Ketekunan, disiplin, integritas, dan kepedulian sosial dinilai menjadi bagian penting dalam membangun prestasi.
Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., turut memberikan apresiasi terhadap buku tersebut. Ia menilai karya Ja’far memiliki nilai akademik karena menghubungkan pengalaman hidup penulis dengan sejumlah teori yang relevan dalam bidang kesehatan masyarakat, inovasi, dan kepemimpinan.
Dalam kesempatan tersebut, Adang juga menyampaikan pandangan mengenai peluang Ja’far untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral.
Sementara itu, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, melihat perjalanan hidup Ja’far dari perspektif psikologi perkembangan, resiliensi, dan aktualisasi diri.
Menurutnya, pengalaman kehilangan orang tua, hidup dalam keterbatasan, hingga berjualan roti untuk membiayai pendidikan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan ketangguhan seseorang.
Apresiasi juga disampaikan Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes. Ia menilai perjalanan Ja’far menjadi kebanggaan bagi keluarga dan almamater karena menunjukkan pentingnya kerja keras, integritas, dan semangat untuk terus belajar.
Dukungan terhadap Ja’far juga disebut datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI melalui perwakilan resminya, Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng.
Selain itu, dalam rangkaian kegiatan tersebut disebutkan bahwa buku karya Ja’far masuk dalam koleksi referensi Perpustakaan Nasional RI.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi ilmiah, penyerahan buku, serta penandatanganan dokumen referensi.
Melalui buku “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia”, Ja’far berharap pengalaman hidupnya dapat menjadi inspirasi sekaligus bahan pembelajaran bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang menghadapi keterbatasan dalam mengakses pendidikan dan mengembangkan potensi diri.
Ja’far juga menyampaikan rasa syukur atas kesempatan memperoleh Beasiswa Kapolri untuk menempuh pendidikan di Universitas Sumatera Utara.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo atas kepercayaan yang diberikan. Menurut Ja’far, kesempatan tersebut menjadi motivasi untuk terus belajar, menghasilkan karya, dan mengembangkan inovasi yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Tidak ada Respon