SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Menindaklanjuti pelantikan dan pengambilan sumpah dan janji pejabat pimpinan tinggi pratama, pejabat administrator, pengawas dan kepala sekolah yang dilakukan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo pada kemarin Kamis (21/3/2024), Dinas Pendidikan (Disdik) setempat langsung menyerahkan SK pengangkatan kepala sekolah di lingkungannya, Senin (25/3/2024).
Dinas Pendidikan menyerahkan petikan keputusan Bupati Sumenep tentang pemindahan tugas, pengangkatan kepala sekolah dan pengawas sekolah di gedung Ki Hajar Dewantara.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep Agus Dwi Saputra menerangkan, terdapat 240 guru yang diangkat menjadi kepala SDN, 15 orang pengawas dan 9 Kepala SMPN di lingkungan dinas pendidikan yang dipimpinnya.
“Kita menyerahkan SK Petikan pengangkatan 240 guru yang diangkat menjadi kepala SDN, 15 orang pengawas dan 9 Kepala SMPN,” terang Agus Dwi Saputra di sela-sela penyerahan SK.
Kadisdik Agus mengatakan, walaupun 240 orang dilantik menjadi kepala sekolah, namun masih menyisakan 57 sekolah yang masih belum terisi atau kosong, karena pengisian kepala sekolah ada syarat yang harus diikuti salah satunya dengan mengikuti sebagai guru penggerak.
“Namun karena guru penggerak kita hanya terbatas, dan juga kita ambilkan yang memenuhi syarat. Misalnya mereka minimal harus golongan IIIB dan telah mempunyai sertifikat pendidik,” jelasnya.
Kadisdik Agus juga menjelaskan, pengangkatan dan penyerahan SK petikan yang dilakukan banyak dari mereka yang diangkat menjadi kepala sekolah, bukan dari guru penggerak.
“Sedangkan jumlah total guru penggerak yang kita angkat menjadi kepala sekolah berjumlah 63 orang,” ungkapnya.
Menurutnya, bahwa banyak guru yang enggan menjadi kepala sekolah, dikarenakan beban yang harus ditanggung saat menjadi kepala sekolah. Untuk pihaknya selaku pimpinan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep terus melakukan komunikasi dengan Kementerian Pendidikan.
“Memang tambahan insentif yang diterima kepala sekolah tidak sampai Rp200.000, mungkin dengan tanggung jawab yang besar, mengakibatkan guru enggan untuk menjadi kepala sekolah,” tutupnya.

Tidak ada Respon