SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Anggota DPR RI Komisi XI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur XI Madura Raya, Willy Aditya, kembali menjadi sorotan publik. Politikus Partai NasDem itu dinilai minim kehadiran langsung di tengah masyarakat Madura meski memperoleh mandat politik dari empat kabupaten, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Kritik tersebut disampaikan aktivis muda asal Sumenep, Feri Fausi. Ia menilai seorang wakil rakyat semestinya aktif turun ke daerah pemilihan untuk menyerap aspirasi masyarakat, bukan hanya tampil dalam agenda politik nasional maupun aktivitas media sosial.
Menurut Feri, hingga kini nama Willy Aditya masih belum begitu dikenal oleh sebagian masyarakat Madura. Kondisi itu dinilai menjadi indikator lemahnya kedekatan antara wakil rakyat dengan konstituen yang diwakilinya.
“Jangan hanya aktif di Jakarta dan media sosial, sementara masyarakat di dapil sendiri bahkan tidak mengenal siapa wakilnya. Ini menjadi ironi dalam demokrasi,” tegas Feri. Senin (11/5).
Lebih lanjut ditegaskan, masyarakat Madura membutuhkan figur anggota DPR RI yang benar-benar hadir di tengah rakyat, mendengar langsung persoalan masyarakat, serta memperjuangkan kebutuhan daerah secara konkret.
“Wakil rakyat dipilih untuk menyerap aspirasi masyarakat, bukan sekadar membangun pencitraan politik. Jika masyarakat merasa tidak pernah didatangi atau diajak berdialog, maka fungsi keterwakilan patut dipertanyakan,” lanjutnya.
Feri juga menyoroti minimnya aktivitas Willy Aditya yang berkaitan langsung dengan isu dan kepentingan masyarakat Madura. Menurut pengamatannya, publik lebih sering melihat aktivitas politik nasional dibandingkan kerja nyata di daerah pemilihan.
Padahal, lanjut dia, anggota DPR RI mendapatkan fasilitas dan tunjangan negara untuk menunjang tugas-tugas kerakyatan, termasuk melakukan kunjungan kerja dan menyerap aspirasi masyarakat di dapil masing-masing.
Situasi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Terlebih, Willy Aditya diketahui bukan berasal dari Madura, melainkan lahir di Sumatera Barat. Hal itu dinilai semakin memperkuat kesan kurangnya kedekatan emosional dengan masyarakat Madura.
“Kalau memang dipercaya mewakili Madura, maka buktikan keberpihakan itu lewat kerja nyata dan kehadiran langsung di tengah masyarakat. Jangan hanya muncul saat momentum politik,” kata Feri.
Ia lanjut mengatakan, kritik yang disampaikan bukan bersifat personal, melainkan bentuk kontrol sosial agar para wakil rakyat lebih serius menjalankan amanah yang diberikan masyarakat melalui pemilu.
“Masyarakat Madura membutuhkan wakil yang mau turun langsung, mendengar keluhan rakyat, dan benar-benar bekerja untuk kepentingan masyarakat,” pungkasnya.
Sementara Willy Aditya belum dapat dimintai tanggapannya. (ily/red)

Tidak ada Respon