SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang merupakan lembaga negara yang dibiayai dari uang rakyat yang dibentuk untuk menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi seluruh rakyat Indonesia yang tujuannya untuk pembiayaan pelayanan kesehatan, sehingga masyarakat tidak terbebani biaya besar saat sakit rupanya seakan tidak berlaku di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Pasalnya, seorang pasien miskin asal Desa Romben Rana (Mawiya) yang lagi rawat inap di Rumah Sakit Islam (RSI) Kalianget tidak bisa dicover oleh BPJS Kesehatan hanya karena menolak untuk diamputasi.
Mawiya dipaksa bayar secara mandiri sebesar Rp3.450.314 setelah menolak amputasi jari kaki yang direkomendasikan dokter di RSI Kalianget. Mawiya dirawat di RSI Kalianget sejak 13–16 November 2025 akibat komplikasi diabetes.
Karena dipaksa bayar, Mawiya dan keluarganya yang tergolong keluarga ekonomi rendah harus pontang penting mencari hutangan hanya untuk membayar biaya tagihan pihak rumah sakit lantaran BPJS Kesehatan yang dibentuk negara yang bertujuan untuk pembiayaan pelayanan kesehatan itu enggan membiayai lantaran pasien menolak amputasi yang direkomendasikan oleh dokter di RSI Kalianget.
Beruntung, tidak melalui sistem yang berbelit belit, ini dan itu, Yayasan Bani Insan Peduli (BIP) langsung hadir menjadi garda terdepan membayar biaya rumah sakit kepada masyarakat yang membutuhkan yang harusnya ditanggung oleh pemerintah itu.
Pasukan Yayasan Bani Insan Peduli (BIP) langsung bergerak cepat tidak menunggu waktu turun ke RSI Kalianget pada malam hari untuk menyerahkan bantuan sebesar Rp3,5 juta kepada keluarga pasien setelah mendapatkan kabar adanya masyarakat tidak mampu yang dipaksa bayar biaya rumah sakit lantaran menolak amputasi yang harusnya ditanggung dibiayai pemerintah lewat BPJS Kesehatan itu.
Ketua Yayasan BIP, Ali Zainal Abidin, menegaskan bahwa langkah cepat ini dilakukan sebagai bentuk respon kemanusiaan.
“Kami hanya membantu meringankan bebannya. Ini panggilan kemanusiaan, bukan perkara besar kecilnya bantuan, tapi kepedulian kepada sesama,” ujarnya.
“Kami hanya ingin hadir sebagai saudara. Semoga bantuan ini memberi kelegaan dan menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendirian,” tambahnya.
Bantuan tersebut disambut penuh haru oleh Mawiya dan keluarganya yang dipaksa bayar oleh pihak rumah sakit.
“Terima kasih Pak Ali Zainal Abidin. Semoga Allah membalas kebaikannya,” ucapnya.
Suaminya, Murang (47), juga mengaku terharu melihat ada pihak yang datang malam hari hanya untuk memastikan keluarganya tidak menghadapi persoalan itu sendirian.
“BIP hadir sebagai penyelamat hati kami. Saat kami bingung harus bagaimana, mereka datang memberi semangat,” ucapnya. (ily/red)


