SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Lima unsur profesi medis yakni Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium (PALTEKI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kabupaten Sumenep menyatakan hasil audit pada pelaksanaan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) melalui pengambilan sampel darah dari tumit bukan penyebab kematian bayi yang terjadi di wilayah Kecamatan Batang-batang tak lama ini.
Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep drg. Ellya Fardasah, M.Kes, saat konferensi pers bersama sejumlah media di kantor setempat, Kamis (14/12/2023).
Menurutnya, IDAI, IDI, IBI, PPNI dan PALTEKI memberi kesimpulan bahwa pelaksanaan SHK yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Batang-batang sudah sesuai dengan Standart Operasional Prosedur.
“Sehingga penyebab kematian bayi di Kecamatan Batang-batang itu tidak berhubungan dengan pengambilan sampel darah untuk pelaksanaan SHK,” terang Ellya.
Kelima unsur profesi medis dikatakannya merupakan satuan petugas khusus independen yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Sumenep atas inisiasi Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo dalam melakukan langkah-langkah untuk audit dan penelusuran terkait kematian bayi tersebut yang didalamnya juga terdiri dari lintas sektor yakni forpimcam, kepala desa, tokoh masyarakat dan tokoh agama beserta civitas akademi dari Universitas Wiraraja.
Di samping itu, Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep juga melakukan langkah-langkah dengan melakukan AMP (Audit Maternal Perinatal) di Puskesmas Batang-batang. Lalu melakukan koordinasi bersama Puskesmas setempat dengan forpincam dan kepala desa setempat untuk melakukan silaturahmi dan klarifikasi mengenai penyebab kematian bayi tersebut.
“Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep juga melakukan AMP bersama tim AMP Kabupaten Sumenep dan tim AMP Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur,” papar Ellya.
Ellya memaparkan, kematian bayi adalah kematian yang terjadi sebelum bayi berusia satu tahun per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Jika kematian yang terjadi sebelum bayi berusia 28 hari maka disebut kematian neonatal.
“Di Kecamatan Batang-batang itu bayi meninggal pada usia 6 hari saat perjalanan dirujuk dari RSI Garam Kalianget ke RSUD Sampang. Dalam hal ini pihak keluarga menyalahkan pengambilan sampel darah SHK (Skreening Hipotiroid Kongenital) yang menyebabkan bayi sakit dan kemudian meninggal,” kata dia.
Pada kenyataannya kata Ellya, Skreening Hipotiroid Kongenital adalah skreening yang dilakukan pada bayi baru lahir untuk mendeteksi apakah terjadi penurunan atau tidak berfungsinya kelenjar tiroid yang didapat sejak bayi baru lahir. Hipotiroid kongenital adalah keadaan menurun atau tidak berfungsinya kelenjar tiroid yang didapat sejak bayi baru lahir. Hal ini terjadi karena kelainan anatomi atau gangguan metabolisme pembentukan hormon tiroid atau defisiensi iodium kekurangan hormon tiroid pada bayi dan masa awal kehidupan, bisa mengakibatkan retardasi mental (keterbelakangan mental) dan hambatan pertumbuhan (pendek/stunting).
“Dan Skreening Hipotiroid Kongenital dilaksanakan berdasarkan Permenkes No 78 Tahun 2014 tentang Skreening Hipotiroid Kongenital, SE nomor 02.02/II/3398/2022 tentang kewajiban pelaksanaan SHK dan Kepmenkes HK 01-07 MENKES 1511-2023 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan SHK. Untuk Kabupaten Sumenep pelaksanaan SHK itu mulai per tanggal 1 September 2023,” jelasnya.
Ellya menjelaskan, sedangkan teknik pengambilan sampel darah yang digunakan adalah melalui tumit bayi (heel prick). Teknik ini adalah cara yang sangat dianjurkan dan paling banyak dilakukan di seluruh dunia.
“Dan darah yang keluar diteteskan pada kertas saring khusus sampai bulatan kertas penuh terisi darah, kemudian setelah kering dikirim ke laboratorium SHK di RS dr Soetomo Surabaya,” ungkapnya.
Lanjut Ellya mengungkapkan, dan sampai dengan bulan Oktober tahun 2023 ini jumlah lahir hidup di wilayah Kabupaten Sumenep sebanyak 12 068 bayi. Sejak tanggal 1 Sepember 2023 sampai saat ini bayi baru lahir yang sudah dilakukan pengambilan sampel darah untuk pelaksanaan SHK sebanyak 1078 bayi, yang sudah dilakukan pemeriksaan laboratorium di RSUD dr. Soetomo Surabaya sebanyak 1024 bayi, dengan hasil negatif sebanyak 1023 bayi dan hasil TSH tinggi ada 1 bayi dari salah satu kecamatan yang sekarang sudah dirujuk ke RSUD Dr. H. Moh Anwar Sumenep untuk pemeriksaan lebih lanjut.
“Sedangkan 1022 bayi sampai dengan saat ini hidup sehat dan tidak ada keluhan kecuali laporan dari Kecamatan Batang-batang, 1 (satu) bayi meninggal 61 jam pasca dilakukan pengambilan sampel darah SHK,” kata Ellya.
Sementara sampai dengan bulan November tahun 2023 ini dikatakan, jumlah lahir hidup di wilayah Kecamatan Batang-batang sebanyak 420 bayi. Jumlah bayi yang lahir hidup mulai bulan September sampai dengan November 2023 sebanyak 107 bayi, dan yang lahir normal di Puskesmas Batang-batang sebanyak 42 bayi, dimana 35 bayi di antaranya sudah dilakukan pengambilan sampel darah SHK.
“Dari 35 bayi yang dilakukan pengambilan sampel darah SHK ditemukan 1 bayi meninggal 61 jam pasca dilakukan pengambilan sampel darah SHK,” paparnya. (ily/red)


