PASANG IKLANMU DISINI
IMG-20260920-WA0012
IMG-20260926-WA0005

Diskusi Buku “Masalembu” Dorong Cara Pandang Baru terhadap Masyarakat Kepulauan

Pada
A-AA+A++

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Kehidupan masyarakat kepulauan, identitas budaya Madura, hingga berbagai persoalan pembangunan menjadi topik utama dalam diskusi buku Masalembu: Suara dari Laut Seberang yang digelar LESBUMI PCNU Sumenep bersama Penerbit Literatus, Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan bertajuk Ngobrol Buku tersebut menghadirkan Mahéng selaku penulis, A. Dadiri Zubairi sebagai penanggap pertama, Iskandar Dzulkarnain sebagai penanggap kedua, serta Ummul Hasanah sebagai moderator.

IMG-20260926-WA0006

Forum tersebut tidak sekadar membicarakan proses lahirnya sebuah buku. Percakapan berkembang pada berbagai persoalan yang selama ini melekat dengan Masalembu, mulai dari stereotip masyarakat, keberagaman budaya, hingga tantangan pembangunan di kawasan kepulauan.

Mahéng menjelaskan, buku tersebut lahir dari proses yang tidak direncanakan sejak awal. Berbagai cerita yang diperoleh dari masyarakat serta pengalaman selama melakukan perjalanan ke Masalembu justru mendorongnya untuk menuliskan kisah-kisah yang dinilai menarik dan penting untuk diketahui publik.

“Sejelek-jeleknya tulisan adalah sekuat-kuatnya ingatan,” kata Mahéng.

Ia menyebut, buku tersebut merupakan upaya untuk menyimpan pengalaman sekaligus menghadirkan sudut pandang berbeda mengenai Masalembu. Selama ini, wilayah tersebut kerap dibayangi berbagai stigma negatif, termasuk anggapan sebagai kawasan berbahaya yang bahkan dikaitkan dengan istilah “Segitiga Bermuda”.

Melalui pendekatan journalism feature, Mahéng mencoba menggambarkan kehidupan masyarakat Masalembu secara lebih dekat. Kawasan tersebut memiliki masyarakat dengan latar belakang budaya yang beragam, di antaranya Madura, Bugis, dan Mandar.

Menurut Mahéng, kondisi geografis berupa laut tidak semestinya dipandang sebagai pembatas. Justru laut dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat, budaya, serta membentuk dinamika peradaban di wilayah kepulauan.

Penanggap diskusi, Iskandar Dzulkarnain, mengatakan buku tersebut memiliki nilai penting untuk melihat kembali stereotip yang selama ini berkembang terhadap masyarakat Madura.

Ia berpandangan, konstruksi mengenai masyarakat Madura tidak dapat dilepaskan dari perspektif kolonial yang berkembang pada masa lalu. Padahal, kebudayaan Madura memiliki sejarah panjang dalam berinteraksi dan berbaur dengan berbagai kebudayaan lainnya.

Selain persoalan budaya, Iskandar juga mengkritisi pola pembangunan di kawasan kepulauan yang dinilai masih cenderung menggunakan perspektif daratan.

Menurutnya, sejumlah kebutuhan dasar masyarakat kepulauan, seperti layanan kesehatan, akses listrik, perlindungan lingkungan, serta tata kelola sumber daya laut, perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dan sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan.

Sementara itu, Mahéng berharap buku yang ditulisnya dapat mendorong masyarakat melihat Masalembu berdasarkan kondisi nyata di lapangan, bukan hanya dari cerita atau stigma yang berkembang.

“Datang dan lihat sendiri. Jangan hanya berdasarkan katanya,” ujarnya.

Diskusi tersebut menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan Masalembu melalui perspektif masyarakat dan pengalaman langsung. Selain memperkaya literasi tentang kepulauan, kegiatan itu juga membuka ruang bagi generasi muda untuk memahami kekayaan budaya, sejarah, serta berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat kepulauan Sumenep.

Bacaan Lainnya

Aktivitas PT WAP di Usiran Berau Dipertanyakan, KSOP Sebut Hanya Kantongi Izin Pemanfaatan Garis Pantai

BERAU (JURNALIS INDONESIA) – Aktivitas PT Woro Adhi...

Dugaan Gudang dan Penjualan Miras di Sambaliung, Aparat Harus Turun Tangan

BERAU (JURNALIS INDONESIA) – Dugaan aktivitas penyimpanan dan...

Kemacetan Terjadi di Jalan Bujangga Tanjung Redeb, Polisi Turun Atur Lalu Lintas

BERAU (JURNALIS INDONESIA) – Penumpukan kendaraan menyebabkan kemacetan...

Diskan Sumenep Anggarkan Rp180 Juta untuk Pengadaan Jaring dan Perahu, Penerimanya Misterius, Plt Kadis-Kabid Ikut Menghilang

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten...

Pengadaan Telur, Gula, Kecap, Beras dan Minyak di Dinsos P3A Sumenep Hampir Setengah Milyar, Kadis Sebut untuk Disabilitas

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Dinsos Sosial, Pemberdayaan Perempuan...

Anggaran Jalan-Jalan Dalam 1 Paket di Dinkes P2KB Sumenep Tembus Ratusan Juta, Kadinkes Tutup Mulut

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Anggaran jalan-jalan dalam satu...

IMG-20260910-WA0010

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *