SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Perjalanan menuju Pulau Masakambing di Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura, bukan sekadar perjalanan biasa. Rute panjang yang membelah lautan Jawa itu justru menjadi pengalaman menantang sekaligus mengesankan bagi siapa saja yang ingin menyaksikan langsung habitat endemik kakatua kecil jambul kuning yang kini semakin langka.
Pulau kecil yang berada di gugusan Kepulauan Masalembu tersebut dikenal sebagai satu-satunya habitat alami kakatua kecil jambul kuning subspesies abbotti di dunia. Namun untuk mencapai pulau eksotis itu, wisatawan harus melewati perjalanan laut yang cukup panjang dan penuh tantangan.
Perjalanan biasanya dimulai dari Pelabuhan Kalianget, Kabupaten Sumenep. Dari sana, kapal rakyat maupun kapal perintis harus menempuh waktu belasan hingga puluhan jam menuju Kecamatan Masalembu. Ombak Laut Jawa yang terkenal cukup tinggi pada musim tertentu sering kali menjadi tantangan utama selama pelayaran.
Setelah tiba di Pulau Masalembu, perjalanan masih harus dilanjutkan menggunakan perahu menuju Pulau Masakambing. Jalur laut antarpulau itu menghadirkan panorama birunya lautan, hamparan langit luas, hingga gugusan pulau-pulau kecil yang memanjakan mata.
Meski melelahkan, rasa penat seakan terbayar ketika pengunjung mulai memasuki kawasan Pulau Masakambing. Suasana pulau yang tenang, udara bersih, serta keramahan masyarakat setempat menjadi daya tarik tersendiri yang sulit ditemukan di perkotaan.
Tidak sedikit pecinta alam dan fotografer satwa liar rela menempuh perjalanan panjang demi menyaksikan langsung keberadaan burung endemik yang menjadi ikon konservasi dunia tersebut. Burung kakatua kecil jambul kuning abbotti dikenal memiliki populasi yang sangat terbatas dan hidup berdampingan dengan masyarakat setempat yang menjaga kelestariannya secara turun-temurun.
Selain menjadi rumah bagi satwa langka, Pulau Masakambing juga menawarkan pesona alam yang masih alami. Pantai berpasir putih, air laut jernih, hingga suasana pedesaan khas kepulauan membuat pulau ini layak disebut surga tersembunyi di ujung timur Laut Jawa.
“Perjalanan memang jauh dan menantang, tetapi itulah yang membuat Masakambing terasa istimewa. Siapa pun yang datang biasanya ingin kembali lagi,” ujar salah satu warga setempat.
Pulau Masakambing kini bukan hanya menjadi simbol konservasi satwa langka Indonesia, tetapi juga menjadi bukti bahwa di balik perjalanan yang sulit, tersimpan keindahan alam luar biasa yang masih terjaga hingga hari ini.
Bahkan pulau Masakambing kini menjadi salah satu ikon festival Budaya Masalembu tahun 2026. Sebagai informasi, Festival Budaya Masalembu 2026 sendiri akan berlangsung pada 20–23 Mei 2026 di Lapangan Kecamatan Masalembu dengan menghadirkan berbagai agenda budaya, hiburan, pameran UMKM, hingga promosi wisata daerah kepulauan.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan Festival Budaya Masalembu bukan sekadar hiburan, tetapi juga upaya menjaga identitas masyarakat kepulauan agar semakin dikenal luas.
“Masalembu memiliki kekayaan budaya luar biasa. Daerah ini menjadi titik pertemuan budaya Madura, Mandar, dan Bugis yang hidup harmonis sejak lama. Festival ini menjadi ruang promosi budaya sekaligus penguatan ekonomi masyarakat,” terangnya.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Faruk Hanafi, menegaskan bahwa pemerintah daerah terus mendorong Masalembu sebagai destinasi wisata budaya kepulauan unggulan di Jawa Timur.
“Masalembu memiliki karakter budaya yang unik dan berbeda. Akulturasi tiga suku menjadikan tradisi masyarakat di sana sangat kaya dan menarik untuk dipelajari,” jelasnya.
Festival Budaya Masalembu 2026 diharapkan mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara serta memperkuat posisi Masalembu sebagai ikon wisata budaya bahari Kabupaten Sumenep.

Tidak ada Respon