3. Gunung Kawi
Selanjutnya ada Gunung Kawi yang juga terletak di Jawa Timur. Gunung ini ternyata adalah salah satu tempat yang dianggap angker dan keramat. Jadi pengunjung tidak boleh bersikap seenaknya ketika sedang mendaki gunung ini.
Tempat wisata pendakian ini disebut angker karena di Gunung Kawi terdapat makam Eyang Djoego yang lokasinya berada di lereng.
Setiap hari sebenarnya ada banyak peziarah yang mendatangi makam Eyang Djoego. Bahkan, berbagai sumber menyebutkan, jika makam Eyang Djoego menjadi tempat untuk pesugihan.
Kendati demikian, namun tempat ini sebenarnya sangat indah dan terdapat banyak spot yang menarik untuk dikunjungi.
4. Wisata Gunung Kemukus
Gunung Kemukus rupanya sering jadi buah bibir media asing. Tapi kebanyakan, hal yang dibicarakan bukan potensi wisatanya, namun karena wisata tersebut disebut angker dan sering ada ritual untuk mendapatkan pesugihan. Katanya, ritual tersebut adalah melakukan persetubuhan.
Untuk mengubah citra buruk Gunung Kemukus tersebut, pemerintah setempat kemudian menata ulang lokasi ini dan menyebutnya dengan New Kemukus. Dana yang digelontorkan bahkan mencapai Rp 80 miliar.
New Kemukus terletak di Sumberlawang, Sragen. Pemandangan alamnya yang indah menjadi salah satu daya tarik utamanya. Bagi kalian yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus budaya dan religi, tempat ini jadi salah satu solusinya.
Baca Juga: Tingkat Inflasi Bulanan Kota Kediri Bulan Juli 2022 Turun, Ini Daftar 10 Komoditas Penyumbang Inflasi
5. Klenteng Eng An Kiong
Klenteng ini berlokasi di Jl. R.E Martadinata, Malang, Jawa Timur. Pembangunannya berhubungan dengan datangnya bangsa Tionghoa era Dinasti Ming di Indonesia. Pemimpinnya saat itu adalah seseorang bernama Kwee Sam Hway, yang diyakini merupakan keturunan jenderal Dinasti Ming yang menyelamatkan diri ke Nusantara dari Dinasti Jing.
Proses penyelesaian pembangunan Klenteng Eng An Kiong ini membutuhkan waktu lebih dari 100 tahun. Pembangunan dimulai di tahun 1825 untuk bagian ruang tengah dan inti bangunan. Setelah itu sempat terhenti dan dilanjutkan di tahun 1895. Kemudian di tahun 1934 lanjut pembangunan untuk bagian-bagian lain dari bangunan.
Meskipun usianya sudah ratusan tahun, klenteng ini masih berdiri kokoh dan menjadi tempat pusat kebudayaan Tionghoa yang ada di Malang.

Tidak ada Respon