MALANG (JURNALIS INDONESIA) – Rangkaian panjang BIP Tour Jatim dari Lamongan menuju Malang berubah menjadi perjalanan kemanusiaan yang penuh haru. Setelah sebelumnya menyita perhatian publik melalui aksi sosial di Yayasan Berkas Bersinar Abadi, Lamongan, rombongan BIP Foundation kembali melanjutkan kegiatan ke Yayasan Griya Lansia Malang dengan agenda serupa, namun menghadirkan suasana emosional yang lebih mendalam.
Sesampainya di lokasi, bukan tepuk tangan yang menyambut kedatangan Founder BIP, Ali Zainal Abidin. Suasana justru dipenuhi isak tangis para lansia yang selama ini hidup dalam keterbatasan dan kesunyian di usia senja.
Sebagian lansia tampak berdiri dengan tubuh renta, sementara lainnya hanya mampu duduk sambil menggenggam tangan relawan. Mata mereka berkaca-kaca saat melihat rombongan BIP hadir membawa bantuan, perhatian, dan kepedulian yang selama ini mereka rindukan.
Suasana mendadak hening ketika beberapa lansia memeluk Ali Zainal Abidin sambil berulang kali memanjatkan doa. Ada yang menangis tanpa sepatah kata, ada pula yang terus mengusap air mata sambil menengadahkan tangan.
“Semoga sehat panjang umur, Nak. Semoga rezekinya terus dilancarkan,” ucap salah seorang lansia dengan suara bergetar.
Momen tersebut membuat Ali Zainal Abidin tak mampu menyembunyikan emosinya. Di hadapan ratusan lansia yang menjalani masa tua dengan kondisi fisik yang tak lagi kuat, matanya tampak memerah. Suaranya beberapa kali terhenti saat memberikan sambutan.
Ia mengaku, pertemuan bersama para lansia di Malang menjadi salah satu pengalaman paling menyentuh selama pelaksanaan BIP Tour Jatim.
Sosok dermawan yang dikenal sebagai Abul Yatama atau “Bapak Anak Yatim” karena kepeduliannya itu bahkan bersimpuh di hadapan para lansia sambil memastikan bahwa mereka tidak sendiri.
“Panjenengan semua jangan cemas. Jangan merasa ditinggalkan. BIP akan terus ada bersama panjenengan semua,” tuturnya.
Ucapan tersebut langsung disambut tangis para penghuni yayasan. Beberapa lansia terlihat menundukkan kepala sambil mengusap wajah menggunakan kerudung maupun kain sarung.
Dalam kegiatan itu, BIP kembali menyalurkan santunan, bantuan kebutuhan yayasan, perlengkapan operasional, hingga dukungan fasilitas sosial lainnya sebagai bentuk komitmen terhadap kelompok rentan yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Namun, sebagaimana yang terjadi di Lamongan, bantuan material bukan menjadi inti utama gerakan tersebut. Hal yang paling terasa justru pendekatan kemanusiaan yang dibangun tanpa sekat.
Rombongan BIP membaur bersama para lansia. Mereka makan bersama, berbincang, mendengarkan kisah hidup penghuni yayasan, hingga mendampingi beberapa lansia yang tampak ingin terus berada dekat dengan relawan.
Tidak ada jarak antara tamu dan penerima bantuan. Seluruh suasana larut dalam kebersamaan yang sederhana, tetapi begitu menyentuh.
Sebelumnya, BIP juga menjadi perhatian publik saat menggelar aksi sosial di Yayasan Berkas Bersinar Abadi, Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, Jumat (15/5/2026). Dalam kegiatan tersebut, BIP menyalurkan bantuan senilai lebih dari Rp1 miliar.
Bantuan itu meliputi pembangunan masjid yayasan senilai Rp1 miliar, satu unit ambulans, dua ekor sapi kurban, hingga dukungan penyelesaian pembelian aset tanah yayasan.
Di Lamongan, suasana haru juga terlihat ketika para pasien Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) diajak berinteraksi langsung bersama relawan BIP. Mereka bernyanyi, berbincang, hingga makan bersama tanpa rasa canggung.
Meski diguyur hujan, seluruh rangkaian kegiatan tetap berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan.
Dalam kesempatan tersebut, Ali Zainal Abidin juga memperkenalkan program khusus bagi pasien ODGJ yang dinyatakan sembuh. Setiap pasien yang berhasil pulih akan menerima uang saku sebesar Rp2 juta sebagai dukungan awal untuk kembali menjalani kehidupan sosial bersama keluarga mereka.
Program itu mendapat perhatian besar dari para undangan karena dinilai bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan bentuk kepedulian berkelanjutan terhadap proses pemulihan pasien.
Rangkaian kegiatan dari Lamongan hingga Malang semakin menunjukkan bahwa gerakan sosial BIP Foundation kini berkembang menjadi kekuatan kemanusiaan yang melibatkan banyak elemen dari berbagai daerah di Jawa Timur, mulai dari Pamekasan, Sumenep, hingga Malang.
Sejak berdiri pada 2023, BIP Foundation terus memperluas jangkauan gerakannya dengan fokus membantu kelompok rentan, seperti lansia, pasien ODGJ, masyarakat kurang mampu, hingga yayasan sosial yang membutuhkan dukungan berkelanjutan.
Di tengah santunan, bantuan, dan berbagai fasilitas yang diberikan, ada satu hal yang paling membekas sore itu, yakni tangis para lansia yang akhirnya merasa masih diperhatikan dan dianggap ada.

Tidak ada Respon