SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Pesan menjaga lingkungan tidak hanya disampaikan melalui imbauan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep memilih cara berbeda dengan menghadirkan konsep stan yang memanfaatkan barang bekas sebagai bagian dari dekorasi dalam Madura Culture Festival (MCF) 2026.
Sejumlah botol plastik bekas yang umumnya berakhir menjadi sampah dimanfaatkan kembali dan ditata menjadi ornamen stan. Konsep tersebut menjadi daya tarik tersendiri sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat yang mengunjungi pameran.
Inovasi itu dihadirkan DLH Sumenep di bawah kepemimpinan Kepala DLH Sumenep, Anwar Syahroni Yusuf, AP., M.Si. Menurutnya, pemanfaatan material bekas merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat bahwa sampah masih dapat dikelola dan digunakan kembali.
Konsep stan tersebut terlihat sejak Pameran Pembangunan 2026 dibuka di GOR A. Yani Pangligur, Sumenep, Rabu malam (26/8/2026). Pengunjung dapat melihat secara langsung berbagai material bekas yang dikreasikan menjadi bagian dari tampilan stan.
Bagi DLH, keberadaan dekorasi berbahan daur ulang bukan sekadar persoalan estetika. Lebih jauh, konsep tersebut ingin mengajak masyarakat mengubah pola pikir terhadap sampah, mulai dari mengurangi penggunaan, memilah, menggunakan kembali hingga mengolahnya agar memiliki manfaat.
Selain mengusung konsep daur ulang, DLH Sumenep juga memperhatikan kebersihan kawasan pameran. Sejumlah tempat sampah disediakan di berbagai titik untuk memudahkan pengunjung membuang sampah pada tempatnya.
Tempat sampah berukuran besar juga ditempatkan di sekitar area stan. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kebersihan selama kegiatan yang diperkirakan menarik banyak pengunjung tersebut berlangsung.
DLH Sumenep bahkan menyiapkan apresiasi khusus bagi stan yang dinilai paling konsisten menjaga kebersihan. Stan dengan kondisi paling bersih nantinya akan mendapatkan kejutan atau surprise dari DLH Sumenep.
Kepala DLH Sumenep, Anwar Syahroni Yusuf, mengatakan seluruh konsep tersebut merupakan bagian dari edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan lingkungan.
“Sampah bukan hanya sesuatu yang harus dibuang. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengelolanya dan memanfaatkannya kembali. Karena itu, kami mencoba menghadirkan konsep sederhana yang tetap memiliki pesan bagi masyarakat,” kata Kadis Anwar.
Ia menilai persoalan kebersihan tidak dapat dibebankan hanya kepada petugas. Seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan, termasuk peserta pameran dan pengunjung, memiliki peran dalam menjaga lingkungan.
“Lingkungan yang bersih tidak mungkin tercipta hanya karena petugas kebersihan. Semua harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab bersama,” terangnya.
Menurut Anwar, petugas kebersihan yang disiagakan selama kegiatan tidak hanya bertugas mengangkut dan membersihkan sampah. Mereka juga menjadi bagian dari pelayanan untuk memastikan masyarakat dapat menikmati rangkaian kegiatan dalam suasana yang bersih dan nyaman.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat menjadi contoh bahwa kegiatan yang melibatkan banyak orang tetap bisa berjalan dengan memperhatikan aspek lingkungan.
“Jangan sampai kegiatan yang menghadirkan banyak masyarakat justru meninggalkan banyak sampah. Kita ingin kegiatannya meriah, tetapi kebersihan dan lingkungannya tetap terjaga,” tegasnya.
Kadis Anwar menambahkan, sejak mendapat kepercayaan memimpin DLH Sumenep, dirinya berupaya mendorong berbagai terobosan dalam pelaksanaan tugas. Baginya, jabatan bukan hanya berkaitan dengan urusan administratif, tetapi juga harus mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Jabatan ini bagi saya adalah amanah. Saya ingin menjadikannya sebagai jembatan untuk berbuat dan memberikan manfaat. Selama masih bisa dilakukan, kami akan terus berinovasi dan memberikan yang terbaik untuk daerah,” ungkapnya.
Pameran Pembangunan 2026 menjadi salah satu ruang bagi organisasi perangkat daerah dan berbagai instansi untuk memperkenalkan program, inovasi, serta hasil pembangunan kepada masyarakat.
DLH Sumenep memanfaatkan momentum tersebut untuk mengangkat persoalan lingkungan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama mengenai kebersihan dan pengelolaan sampah.
Madura Night Vaganza 2026 dijadwalkan berlangsung pada 26 Agustus hingga 4 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Madura Culture Festival (MCF) yang memadukan unsur budaya, pembangunan, UMKM, ekonomi kreatif, serta berbagai kegiatan masyarakat.
Melalui pemanfaatan bahan bekas sebagai dekorasi, penyediaan fasilitas tempat sampah, hingga pemberian apresiasi bagi stan terbersih, DLH Sumenep ingin menegaskan bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas, melainkan kebiasaan bersama yang perlu dibangun secara berkelanjutan.

Tidak ada Respon