PASANG IKLANMU DISINI

7 Tahun Mengabdi Didepak Tanpa Pesangon, Praktisi Hukum: Ini Bukan Reformasi ASN

Pada
A-AA+A++

PEMALANG (JURNALIS INDONESIA) – Seorang tenaga honorer di Dinas Pariwisata Kabupaten Pemalang, bernama Romadlon, harus menelan pil pahit setelah tujuh tahun mengabdi sejak 2018.

‎Tanpa kesalahan, tanpa pelanggaran disiplin, dan tanpa proses transparan ia diberhentikan begitu saja per 28 Desember 2025, tanpa surat, tanpa pesangon, tanpa kompensasi, bahkan tanpa kepastian hukum.

‎Ironisnya, tenaga honorer tersebut memiliki 8 buah SK honorer resmi dan selama bertahun-tahun menjalankan tugas rutin pemerintahan.

‎Dia dikeluarkan semata karena tidak dapat mengikuti seleksi PPPK akibat terbentur usia. Akibatnya kini ia menganggur mendadak, kehilangan sumber penghidupan setelah negara selesai “memanfaatkannya”.

‎Dipakai Bertahun-Tahun, Dibuang Seketika

‎Kasus ini langsung menuai kecaman keras dari kalangan praktisi hukum. DR.(C) Imam Subiyanto, S.H., M.H., CPM, menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pengingkaran tanggung jawab negara yang telanjang.

‎“Bekerja tujuh tahun dengan SK resmi itu bukan relawan. Negara menikmati tenaga dan loyalitasnya, lalu ketika skema berubah dan usia tidak masuk, orang ini ditendang begitu saja. Ini bukan reformasi ASN, ini pemiskinan terencana,” tegas Imam.

‎Menurutnya, kegagalan mengikuti seleksi PPPK karena usia bukan kesalahan tenaga honorer dan tidak dapat dijadikan alasan hukum untuk pemberhentian sepihak.

‎Langgar Prinsip Negara Hukum

‎Imam menegaskan, tindakan “menyuruh berhenti” tanpa surat (hanya ucapan), tanpa skema transisi dan tanpa kompensasi menabrak Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB).

‎“Administrasi negara tidak boleh bermental lepas tangan. Kalau tidak mampu mengangkat, negara wajib memberi perlindungan transisi atau kompensasi. Mengusir tanpa apa pun adalah bentuk pemutusan hubungan kerja sepihak oleh pemerintah,” ujarnya.

‎Ia menyebut, jika tidak ada SK pemberhentian yang sah dan kompensasi pengabdian, maka tindakan tersebut berpotensi kuat sebagai Perbuatan Melawan Hukum oleh Badan dan/atau Pejabat Pemerintah.

‎Bom Waktu Sosial di Daerah

‎Lebih jauh, Imam mengingatkan bahwa kasus ini hanya puncak gunung es. Banyak tenaga honorer lain di daerah yang terancam mengalami nasib serupa akibat kebijakan transisi ASN yang tidak disertai perlindungan sosial dan keadilan kebijakan.

‎“Kalau satu orang dibiarkan, maka puluhan akan menyusul. Ini bom waktu sosial. Pemerintah daerah tidak boleh bersembunyi di balik regulasi pusat, lalu membiarkan rakyatnya jatuh miskin,” katanya.

‎Desakan Tanggung Jawab Pemerintah

‎Kasus ini memicu desakan agar pemerintah daerah:

‎1. membuka data pemberhentian tenaga honorer
‎2. menghentikan praktik pemberhentian sepihak
‎3. menyediakan kompensasi dan skema transisi yang manusiawi.

‎“Negara yang beradab tidak memperlakukan pengabdian rakyatnya seperti tisu dipakai lalu dibuang,” pungkas Imam Subiyanto. (ely/mam)

IMG-20260526-WA0086

Bacaan Lainnya

Kepala Bappeda Sumenep Jadikan Semangat Idul Adha Inspirasi Pembangunan dan Kebersamaan

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Dalam rangka memperingati Hari...

NasDem Jatim Tebar 155 Hewan Kurban, Sapi Disalurkan ke PWNU, Muhammadiyah hingga Ponpes Bumi Sholawat

SURABAYA (JURNALIS INDONESIA) – DPW Partai NasDem Jawa...

Bagian Kesra Setdakab Sumenep Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Dalam rangka menyambut Hari...

LKPD 2025 Kembali WTP, Pemkab Sumenep Pertahankan Prestasi Sembilan Tahun Berturut-turut

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep...

Pemkab Sumenep Pelajari Kebijakan Penundaan Adminduk untuk Lindungi Hak Anak dan Mantan Istri

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Pemerintah Kabupaten Sumenep terus...

Kementerian Pertanian Perkuat Hilirisasi Kelapa di Sumenep Gandeng CV Elang Buana

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Pemerintah pusat melalui Kementerian...

IMG-20260508-WA0007

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *