PASANG IKLANMU DISINI

Kolaborasi Lintas Generasi, Rebana Assalafiyah Gaungkan Selawat Lewat Rekaman

Pada
A-AA+A++

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Kelompok Kesenian Rebana Klasik Assalafiyah asal Larangan, Kabupaten Pamekasan, melakukan rekaman profesional di OS Studio, Kabupaten Sumenep, Selasa (31/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan budaya Islam Nusantara.

Rekaman tersebut difokuskan pada dokumentasi “Terbang Karatangan”, salah satu pakem rebana khas Pamekasan yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki nilai historis tinggi.

Pengampu Grup Rebana Assalafiyah, Kiai Jawahir, mengungkapkan bahwa alat musik yang digunakan bukan instrumen biasa. Rebana tersebut diperkirakan telah berusia sekitar tiga abad dan tetap dipertahankan keasliannya hingga kini.

Sementara itu, promotor grup, Mpu Fauzi, menjelaskan bahwa proses rekaman dilakukan secara profesional guna menghasilkan dokumentasi yang utuh dan berkualitas.

“Rekaman ini kami lakukan agar nilai artistik dan historisnya dapat terdokumentasi dengan baik,” ujarnya.

Proses produksi ini turut mendapat apresiasi dari Rifan Khoridi, pemerhati seni tradisional sekaligus pemilik OS Studio. Ia menilai langkah tersebut sebagai upaya konkret dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional.

“Ini menjadi langkah strategis untuk merawat nilai-nilai warisan leluhur agar tetap relevan di masa mendatang,” kata Rifan.

Grup Rebana Assalafiyah terdiri dari 12 penabuh rebana serta 7 hingga 10 personel tim ruddat yang menampilkan koreografi khas. Komposisi ini memperlihatkan kekompakan serta kekayaan tradisi yang masih terjaga.

Kekuatan kelompok ini juga terletak pada perpaduan lintas generasi. Para sesepuh seperti Rifa’i, Supandi, Sun, Pasulah, dan H. Syaiful berkolaborasi dengan generasi muda, di antaranya Adul Adim, Rahmad, Fauzi, Umam, Rian, Berril, dan lainnya.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, kegiatan ini juga mengandung nilai spiritual. Lantunan selawat yang dibawakan diharapkan dapat memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Salah satu syair yang dikumandangkan berbunyi, “Man yamut fi hubbihi nala kullal mathlabi,” yang bermakna bahwa siapa yang wafat dalam kecintaan kepada Rasul, maka ia telah meraih apa yang diharapkannya.

Melalui hasil rekaman yang nantinya akan dirilis dalam format fisik maupun digital, diharapkan generasi mendatang tetap dapat menikmati keaslian dan kekayaan bunyi Terbang Karatangan yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Bacaan Lainnya

Wujudkan Pemerintahan Transparan, Diskominfo Sumenep Bahas Keterbukaan Informasi Bersama OPD

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Dinas Komunikasi dan Informatika...

Penarikan Uang Sewa Tanah TN di Desa Asemdoyong, Pakar Hukum: Masuk Kategori Pungli

PEMALANG (JURNALIS INDONESIA) – Penarikan uang sewa atas...

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo Raih Penghargaan Nasional Revitalisasi Bahasa Daerah 2026

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Upaya Pemerintah Kabupaten Sumenep,...

516 Kepala Sekolah Terima SK Mutasi Dari Bupati Pemalang

PEMALANG (JURNALIS INDONESIA) – Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro,...

Wujud “Bismillah Melayani”, Disdukcapil Sumenep Jemput Bola Layani Perekaman E-KTP Warga Disabilitas di Pulau Sapudi

SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Komitmen memberikan pelayanan administrasi...

LPSK Buka Lowongan Kerja Pengadaan PJLP 2026, Ayo Simak Formasi dan Persyaratannya

JAKARTA (JURNALIS INDONESI) – Lembaga Perlindungan Saksi dan...

IMG-20260508-WA0007