PASANG IKLANMU DISINI
IMG-20260508-WA0019
IMG-20260508-WA0009

Polemik PR Ternak Pita Cukai di Sumenep Semakin Jadi Bola Liar Kendati Sudah Setorkan Uang Melalui Asosiasi untuk Kondusifitas

Pada
KOLASE FOTO. Ilustrasi mafia dan pita cukai rokok. Dan Kepala Bea Cukai Madura Muhammad Syahirul Alim yang bertanggungjawab untuk menertibkan PR nakal yang hanya dijadikan sarang ternak pita cukai di Kabupaten Sumenep
KOLASE FOTO. Ilustrasi mafia dan pita cukai rokok. Dan Kepala Bea Cukai Madura Muhammad Syahirul Alim yang bertanggungjawab untuk menertibkan PR nakal yang hanya dijadikan sarang ternak pita cukai di Kabupaten Sumenep
A-AA+A++

JURNALIS INDONESIA – Kendati sudah menyetorkan sejumlah uang untuk klaim kondusifitas melalui Asosiasi/Paguyuban Pengusaha Rokok yang dibentuk dadakan yang dikabarkan diketuai oleh seorang pengusaha muda, polemik PR yang ditengarai jadi sarang ternak pita cukai di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, semakin menjadi bola liar, Minggu (18/5/2025).

Pembentukan dadakan Asosiasi/Paguyuban Pengusaha Rokok Sumenep yang menjadikan seorang pengusaha muda terpilih secara aklamasi dinilai tidak bisa membawa manfaat untuk kondusifitas. Salah satu pemilik PR yang punya puluhan karyawan di gudangnya pun tersulut amarah. Ia mengaku tersinggung saat mendengar ada ketua Asosiasi/Paguyuban PR yang terpilih secara aklamasi.

“Ini seperti permainan monopoli. Aklamasi aklamasi bagaimana. PR di Sumenep bukan 40-50 PR tapi seratus PR lebih. Saya saja baru diberitahu setelah ada ketuanya,” katanya.

Sementara pemilihan Ketua Asosiasi/Paguyuban PR Sumenep yang dibentuk dadakan itu dikabarkan hanya dipilih oleh sekitar 40 orang perwakilan Perusahan Rokok.

Salah satu bos PR produktif itu pun curiga pembentukan Asosiasi/Paguyuban dan pemilihan ketua Asosiasi/Paguyuban PR Sumenep dimonopoli satu kelompok tertentu yang dinilai bakal tambah gaduh.

“Ini tak beres. Terkesan akal akalan saja. Nyatanya sekarang tambah gaduh,” sebutnya.

Pihaknya juga mengaku sudah menyetor sejumlah uang. “Setiap PR itu dimintai 2 Jutaan dan saya sudah bayar demi kondusifitas tapi pada akhirnya semakin tidak kondusifi seperti ini kan kacau kalau begini,” katanya.

Sementara itu, puluhan wartawan yang tergabung di Asosiasi Kewartawanan dikabarkan menerima uang Rp300 ribuan yang disebutkan dari asosiasi rokok.

“Saya dapat bagian Rp300 ribuan. Kata ketua organisasi sih dari asosiasi rokok,” ungkapnya.

Pembagian tersebut berpotensi akan semakin memperkeruh keadaan. Selain dikeluhkan bos PR produktif, langkah tersebut dinilai hanya menguntungkan oknum oknum tertentu yang ingin meraup keuntungan besar dari situasi ini.

Sementara Kepala Bea Cukai Madura yang berkantor di Bumi Gerbang Salam, Pamekasan, Muhammad Syahirul Alim, dikonfirmasi mengenai maraknya bisnis ilegal ternak pita cukai di Sumenep yang dikendalikan koordinator bekerjasama dengan mafia kelas kakap JH asal Malang, Jawa Timur, mendadak nomor telepon selulernya tidak bisa dihubungi.

Ternak pita cukai adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan praktik ilegal dengan menebus pita cukai di kantor Bea Cukai tetapi tidak dipasang pada rokok produksinya melainkan dijual lagi kepada para mafia.

Khusus di Sumenep, ratusan pemilik Perusahan rokok (PR) ditengarai tidak memproduksi rokok namun justru melakukan ternak pita cukai. Praktik ini disinyalir sudah terstruktur dan sistematis yang seakan dibiarkan merajalela oleh Bea Cukai Madura. (ily/red)

IMG-20260312-WA0047

Bacaan Lainnya

IMG-20260508-WA0007

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *