Menu

Mode Gelap

OPINI · 21 Mei 2023 08:27 WIB

Konflik di Gersik Putih, Warga Jadi Musuh Polisi (?)


 Konflik di Gersik Putih, Warga Jadi Musuh Polisi (?) Perbesar

Oleh: Nur Khalis Wartawan Sumenep

OPINI (JURNALIS INDONESIA) – Tiga anggota polisi, berseragam lengkap, ikut mengatur siasat di balai desa. Mobil besar yang mereka tumpangi, diparkir tepat di depan “rumah” untuk semua warga.

Seluruh warga Tapakerbau, yang menolak reklamasi, masih berbaik sangka. Baik dan buruk siasat itu diatur, tidak sedetik pun warga merecokinya. Warga masih percaya bahwa polisi adalah pengayom masyarakat. Bukan juru lobi untuk memuluskan rencana jahat.

Warga, yang berada di titik konflik, terus berusaha menahan diri. Upaya untuk mengusir eskavator, dilakukan secara persuasif. Meski panas terik, udara terasa asin dan kebencian memuncak, warga tetap berusaha tidak salah bertindak.

Hanya saja, saat polisi tiba di titik konflik, mereka menjadi musuh warga: membela pemodal yang akan merusak dan memberangus penghidupan warga yang berusaha melawan hingga saat ini. Sikap polisi sungguh melukai hati.

Tiga orang polisi, yang datang dengan seragam lengkap, katanya, untuk mengamankan. Entah keamanan macam apa yang mereka ingin berikan. Toh di titik konflik, mereka dengan jelas berpihak pada pemodal dan kekuasaan.

Polisi terkesan ingin sekali memusuhi rakyat. Ucapan mereka, yang terdengar seperti hasutan, begitu konsisten dan nyaris memuakkan. Mereka terus menerus memberikan pernyataan bahwa laut tetap layak reklamasi. Sebab sudah ada sertifikat hak milik si joki.

Ternyata, siasat yang diatur di balai desa, sungguh membahayakan. Sebab, menurut warga, saat kejahatan dilakukan oleh penegak kebenaran, kebebasan menjadi terancam dan sangat sulit dilawan.

Sikap tiga polisi, yang tidak sedikit pun berempati pada warga yang akan kehilangan penghidupannya ini, menjadi layak dicurigai. Inikah potret polisi yang harus dihormati?

Semestinya, polisi datang dengan membawa rasa aman. Menjadi pihak netral yang tidak membawa kepentingan. Nyatanya? Setelah mengatur siasat di balai desa, tiga polisi yang berseragam lengkap, membenarkan upaya reklamasi pantai.

Kedua, kedatangan tiga anggota polisi ini patut dipertanyakan. Apakah sudah sesuai prosedur atau giat mereka ilegal? Jika giat mereka sesuai SOP, apakah keberpihakan mereka juga demikian?

Ketiga, jika para polisi berseragam lengkap ini adalah “utusan legal” dari komandan di atasnya, berarti jelas bahwa upaya memihak pada para pemodal, si perusak lingkungan, sudah menjadi sikap yang keliru dari seluruh jajaran kepolisian.

Ke empat, jalan terbaik melawan tiga polisi adalah membuat laporan ke propam. Karena bisa jadi sikap membela pemodal adalah ilegal. Maka, tiga polisi ini, mungkin sudah layak dipecat karena bersikap di luar tugas pengayoman.

Terakhir, jika setiap polisi yang datang sudah membawa kepentingan, kiranya pada siapa lagi rakyat akan meminta perlindungan? Saat polisi datang untuk melemahkan perjuangan, bukankah ini sikap yang arogan? Jangan tambahi rasa benci warga pada kepolisian.

Gapura, 21 Mei 2023

Catatan: Seluruh isi tulisan ini merupakan tanggungjawab penulis sepenuhnya.

Artikel ini telah dibaca 145 kali

Baca Lainnya

Upaya Memformulasikan Judicial Restrain dalam Hukum Positif di Indonesia

29 Juni 2024 - 12:12 WIB

Perkembangan dan Persiapan Revolusi Industri di Indonesia

20 Maret 2024 - 22:31 WIB

Catatan Bedah Buku Puisi Senandung Rakyat Merdeka

21 November 2023 - 07:30 WIB

Pemberlakuan Asas Retroaktif sebagai Terobosan Baru dalam Penyusunan Argumentasi Hukum

15 September 2023 - 07:00 WIB

Rujak Pak Bupati

16 Agustus 2023 - 09:33 WIB

Makelar Kasus

17 November 2022 - 22:29 WIB

Trending di OPINI