PASANG IKLANMU DISINI

Universitas Negeri Surabaya Menjadi Rumah untuk Semua Mahasiswa: Pendidikan Inklusif di Perguruan Tinggi

Pada
A-AA+A++

Oleh: Nurul Hafadah

OPINI (JURNALIS INDONESIA) – Bagi sebagian mahasiswa, kampus adalah tempat untuk belajar menuntut ilmu, wawasan, dan membentuk karakter seseorang. Namun, ada juga sebagian mahasiswa lainnya yang merasa bahwa kampus adalah tempat yang terasa asing dan menakutkan. Terutama bagi mereka yang memiliki latar belakang berbeda, seperti penyandang disabilitas misalnya. Untuk mengatasi pemikiran mahasiswa bahwa kampus adalah tempat asing dan menakutkan terutama bagi mahasiswa yang memiliki latar belakang berbeda ialah dengan pendidikan inklusif.

Inklusif adalah sebuah kata ajaib yang melibatkan pendekatan untuk membangun lingkungan terbuka bagi siapa saja. Dalam pelaksanaan pendidikan inklusif ini, penerapan kurikulum menggunakan prinsip fleksibilitas. Sehingga bisa diadaptasi sesuai dengan kondisi, karakteristik, dan kebutuhan mahasiswa. Pendidikan inklusif bukan hanya soal menerima mahasiswa berkebutuhan khusus, tetapi juga tentang membangun sistem pendidikan yang memastikan semua mahasiswa mendapatkan akses yang setara terhadap layanan pendidikan yang berkualitas tanpa memandang perbedaan fisik, intelektual, sosial, emosional, linguistik, atau bahkan latar budaya.

Universitas Negeri Surabaya telah berhasil menjadi rumah untuk semua kalangan mahasiswa dengan diterapkannya sistem pendidikan inklusif di dalam kampus. Unesa menjadi salah satu perguruan tinggi negeri ramah disabilitas dengan memberikan akses dan kesempatan pendidikan seluas-luasnya kepada seluruh mahasiswa. Dengan ini, Unesa juga mempermudah pendidikan bagi mahasiwa penyandang disabilitas dalam menempuh pendidikan dengan melihat perbedaan sebagai kekayaan yang perlu dirayakan. Contohnya, Unesa menyediakan jalur khusus bagi penyandang disabilitas dan bahkan ada beasiswa penerimaan jalur khusus mahasiswa disabilitas.

Sebagai gambaran nyata, Ibam, seorang mahasiswa penyandang disabilitas tunanetra dari program studi S1 Pendidikan Luas Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya, membagikan pengalamannya terkait implementasi pendidikan inklusif yang ia rasakan. Ibam mengatakan, “Lingkungan kampus ini sangat mendukung, jadi para dosen dan guru besar sangat memahami hambatan dan kebutuhan yang kami butuhkan 90% sudah terpenuhi contohnya seperti materi yang berupa digital tidak ada kendala, jadi seluruh mata kuliah dapat saya ikuti dengan baik. Semisal ada tugas seperti pembuatan makalah, dosen itu mengarahkan terkait tugas. Jadi, ada peran dari dosen dan juga teknologi screen reader (teknologi yang membacakan teks pada layar komputer). Jadi semisal kita ujian itu waktunya dua kali lebih lama dari mahasiswa biasanya karena screen reader butuh waktu untuk membacakan. Jadi, untuk fasilitas menurutku sangat memadai ya, seperti jalur-jalur khusus disabilitas itu dan di setiap ruang pintu kelas ada label tanda nomor ruangan.”

Selain itu, Ibam juga menyampaikan “disabilitas itu sangat beragam,banyak dan unik, seperti tunanetra, tunarungu, tunadaksa dan lainnya. Jadi, kita sebagai mahasiswa yang nanti akan menjadi tenaga pendidik harus mampu memahami dan mengidentifikasi secara spesifik macam-macam keberagaman dan kebutuhan dari peserta didik kita. Saran saya untuk disabilitas tunanetra seperti saya itu dari TK sampai SMP itu tetap di SLB (sekolah luar biasa), untuk membangun karakter dan mengembangkan potensi mereka di lingkungan yang benar-benar memahami, baru SMA keluar ke sekolah inklusif seperti saya.”

Melalui penerapan pendidikan inklusif, kampus bukan lagi sekedar tempat untuk menuntut ilmu, tetapi juga menjadi ruang aman dan nyaman bagi setiap mahasiswa untuk tumbuh, belajar, dan dihargai. Cerita Ibam di atas menjadi bukti nyata bahwa inklusivitas bukan hanya slogan, melainkan praktik yang menyentuh kehidupan mahasiswa secara langsung. Universitas Negeri Surabaya telah membuktikan komitmen, empati, dan kebijakan yang tepat, dimana perguruan tinggi ini mampu menjadi rumah bagi semua kalangan mahasiswa tanpa terkecuali.

IMG-20260528-WA0030

Bacaan Lainnya

Kurban Iduladha 2026: Jangan Sampai Dana Negara dan BUMN Menjadi Alat Politik di Madura

Oleh: Wawan, S.E (Pengamat Sosial Madura) Momentum Iduladha...

Tanah, Batalyon, dan Aroma Politik Parpol

Oleh: Fauzi As OPINI (JURNALIS INDONESIA) – Di...

KEK Madura Harga Diri Pulau Garam

Oleh: Moh Andriansyah Ketua Pemuda Muhammadiyah Sumenep OPINI...

LSM: Lapar Siang Malam

Oleh: Fauzi As OPINI (JURNALIS INDONESIA) – Mari...

Satu Mei sebagai Refleksi Perlawanan Kaum Buruh: Mengenang Kembali ‘Fatwa’ Mbah Karl Marx, Dialektika Materialisme Historis, antara Kelas Penindas dan Tertindas dalam Konteks Perbudakan Modern

Oleh: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si (Akademisi, Direktur...

Jokowi Punya Program BLT, Prabowo Punya MBG dan Program Populasi Lainnya: Strategi Klientelisme Menuju Panggung Kekuasaan Jilid ke-2

Oleh: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si (Akademisi, Direktur...

IMG-20260508-WA0007

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *