SUMENEP (JURNALIS INDONESIA) – Praktik tak senonoh yang diduga dilakukan seorang oknum pemilik konter HP ternama di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kini jadi buah bibir. Dugaan skandal ini mencuat usai mantan karyawan perempuan buka suara dan membongkar perlakuan bejat yang dialami selama bekerja, Rabu (29/07/2025).
Berdasarkan pengakuan yang direkam,
kasus bermula dari pengakuan saat Melati (nama samaran) menceritakan kebusukan sang bos kepada rekan sejawatnya.
Melati tidak menyangka bos HP yang keliatan seperti mahluk religius ternyata berotak mesum dan bejat.
Melati meyakini, teman sejawatnya juga menjadi korban kebrutalan nafsu birahi mantan bosnya yang memang sengaja memperkerjakan wanita-wanita cantik di konternya.
Kini, melati diberhentikan tanpa alasan yang jelas. Perannya sebagai orang kepercayaan digantikan perempuan baru.
Topeng religius seorang bos konter HP ternama di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, runtuh seketika setelah mantan karyawannya membongkar praktik menjijikkan yang diduga telah berlangsung lama.
Eks karyawan yang sempat dipercaya sebagai “orang dalam”, membeberkan sisi kelam sang bos yang selama ini tampil alim dan sopan di muka umum. Namun dibalik itu, Melati menyebut bosnya sebagai “laki-laki rakus syahwat” yang menjadikan perempuan di tempat kerja sebagai santapan birahi.
Melati juga menuding, rekrutmen pegawai perempuan di konter tersebut memang sengaja menyasar yang berparas menarik. Bukan untuk profesionalisme, tapi untuk memuaskan syahwat bosnya.
“Dia tuh gak cari yang pinter kerja, tapi yang cantik dan nurut. Saya yakin, saya bukan satu-satunya,” ungkapnya.
Menurutnya, ada pola yang berulang, pegawai cantik direkrut, diberi fasilitas seperti iPhone dan gaji tinggi, lalu dijadikan objek seksual di balik kamar hotel. Siapa yang menolak, akan disingkirkan. Termasuk dirinya.
Kejadian ini makin menghebohkan karena sang bos sering tampil seolah-olah sosok panutan. Kini, publik terkejut mengetahui sisi gelap yang selama ini tersembunyi di balik penampilan yang sok suci.
Sampai berita ini dirilis, belum ada klarifikasi dari pihak terduga pelaku. Upaya konfirmasi juga belum membuahkan hasil.
Sementara itu, sejumlah aktivis perempuan di Sumenep menyerukan agar korban lain tidak takut untuk bersuara.
Mereka menuntut agar pihak kepolisian segera melakukan penyelidikan dan mengambil tindakan hukum.
“Ini jelas pelecehan seksual yang dibungkus fasilitas. Jangan tunggu viral dulu baru bertindak,” tegas Siti Nurhasanah, aktivis perlindungan perempuan Madura.
Warga sekitar pun ikut geram. Mereka menyebut ini sebagai tamparan keras bagi dunia kerja di sektor informal yang rentan tanpa pengawasan.
Jika kasus ini terus dibiarkan, bukan tak mungkin praktik amoral seperti ini akan menular ke tempat-tempat lain yang serupa. (ily/red)